Aku adalah si botol plastik minuman. Aku bersama teman-temanku
disimpan di dalam kulkas di warung Pak Ahmad agar terjaga kesegarannya.
Cocok sekali diminum saat matahari bersinar terik seperti siang ini.
Datang Jefri dan Doni baru pulang dari sekolah. Seragam putih-merah
mereka basah oleh peluh. Tangan Jefri menarik pintu kulkas dan mengambilku,
sementara Doni memilih salah satu temanku. Setelah Jefri dan Doni menyerahkan
uang seharga diriku kepada Pak Ahmad, kedua anak itu pun meneruskan langkah
menuju rumah. Di tengah jalan, mereka membuka tutup botol masing-masing dan
meneguk isinya.
“Uahh, segarnya...” kata Jefri. Doni memasang raut muka setuju
dengan pendapat Jefri. Senyum bahagiaku mengembang karena dapat menjalankan fungsiku
dengan baik sebagai minuman kemasan.
Tiba-tiba... prak! Jefri melemparkanku begitu saja setelah meminum
habis isiku. Membuat aku terkejut.
“Oi, buanglah sampah pada tempatnya!” seru Doni mengingatkan. Tapi
Jefri hanya menganggap angin lalu dan terus ringan melangkah tanpa dosa. Doni
jengkel dibuatnya. Dia memasukkan botol minumannya yang sudah kosong ke dalam
tas untuk dibuang nanti jika ketemu tong sampah.
“Kenapa kau ada di sini, rongsokan?” aku dikejutkan oleh suara
memaki si bunga mawar. Saking sedihnya, aku baru menyadari kalau di dekat
tempatku tergolek ada si bunga mawar yang sedang mekar-rimbun begitu indahnya.
“Maaf mawar, aku tahu ini bukan tempatku. Aku pun tak ingin di
sini, tapi....”
“Tidak tahukah kau bahwa kehadiranmu sangat merusak penampilanku.
Kecantikanku berkurang gara-gara kau. Tak sepantasnya kau bersanding denganku,”
belum selesai kalimatku sudah dipotong oleh si bunga mawar.
“Butuh waktu sekian puluh juta sekian, entahlah, aku baru bisa
menguraimu, tahu!” si butiran tanah ikut-ikutan menyerangku. “Tubuhmu akan
menyampah bersama yang lainnya dan menimbulkan beragam penyakit.”
“Untung saja kau tidak masuk ke dalamku karena bisa membuat banjir
yang merugikan manusia,” kata si parit. Aku makin tertunduk dalam kehabisan
kata-kata. Semua menyalahkanku. Wahai manusia, semua menyalahkanku!
Matahari pelan-pelan naik. Bayang-bayang hampir sepanjang badan.
Udara tak sepanas tadi. Dari tempatku tergolek, kuperhatikan sekitar. Ternyata
banyak juga yang senasib denganku. Kulihat si kaleng biskuit yang merana, si
kertas koran lagi menangis, si plastik kerupuk yang meratap....
Tidak lama kemudian adzan Ashar berkumandang. Anak-anak dan orang
dewasa berduyun ke masjid. Anak-anak perempuan bermukena yang melewati kami
berseru kagum melihat keindahan si bunga mawar. Aku mengucap syukur karena di
antara sekian banyak orang yang lupa, masih ada juga yang mengingat-Mu, pemilik
semesta alam dan yang mengatur keseimbangannya. Lantas aku berdoa semoga ada
yang tergerak memungutku.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali. Aku merasa ada yang mengangkat
tubuhku. Aku dimasukkan ke dalam karung, berbaur dengan sampah-sampah
sejenisku. Tubuhku terguncang-guncang di dalam karung sepanjang pagi itu.
Rupanya aku diambil oleh Bu Siti si perajin barang bekas. Tubuhku
dicuci bersih, di jemur, lalu dipotong dengan pola-pola tertentu. Dan malamnya,
entah apa lagi yang dilakukan Bu Siti terhadap diriku. Aku terlanjur mengantuk
dan tertidur. Kelelahan karena sepagian tadi terguncang-guncang di dalam
karung, tindih-menindih dengan yang lainnya, dan lain-lainnya yang diperlakukan
Bu Siti terhadapku.
Esoknya ketika bangun tidur, aku pun terkejut. Sosokku bukan lagi
botol plastik yang dianggap sampah, tetapi sudah berubah menjadi rangkaian
bunga cantik. Anak-anak Bu Siti memuji-muji keindahanku. Aku akan segera di
antar ke toko untuk dijual. “Aku tidak kalah cantik dari si bunga mawar,”
gumamku senang.
Sekarang aku tidak perlu sedih lagi. (hz)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar