Selasa, 24 April 2012

Urusan Pinjam-meminjam


Suatu hari saya hendak membuat sebuah barang kerajinan dari kertas. Saya pun mengumpulkan alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat kerajinan kertas tersebut. Sebut saja gunting, lem, selotip, penggaris, dan tetek-bengeknya. Semua alat dan bahan itu segera terkumpul karena saya sudah menyiapkannya sejak kemarin. Tetapi ada yang kurang. Selotipnya kemana?
Sudah saya cari-cari, di rak, di laci, bahkan di kamar sebelah, tetap tidak ketemu. Bahkan sampai setengah jam kemudian belum ketemu juga. Saya kelabakan dibuatnya karena waktu saya semakin menipis sementara saya masih punya agenda lain yang mesti diselesaikan. Setengah jam terbuang percuma untuk mencari selotip yang hilang.
Rupanya selotip itu dipinjam tanpa permisi oleh seorang teman dari kamar sebelah—maklum mahasiswa, tinggal bersama dalam satu rumah kontrakan. Hal itu baru kuketahui keesokan harinya. Itu artinya, jadwalku membuat kerajinan kertas hari itu gagal total.
Ada rasa jengkel yang mengganjal hati. Siapa orangnya yang tidak marah coba, agenda yang sudah disusun matang-matang dibikin semrawut oleh masalah kecil tadi. Rasanya ingin marah-marah sendiri, tapi itu hanya akan membuat hati tambah sakit. Hati ini pun mencoba mengikhlaskannya.
Bagiku, tidak masalah barang-barang itu dipinjam, tanpa permisi pun tidak masalah asalkan hanya dipinjam sebentar dan segera dikembalikan ketika sudah selesai memanfaatkan barang yang bersangkutan. Tidak masalah karena itu hanya barang “kecil”. Tapi akan lain halnya jika yang dipinjam adalah barang “wah” atau pun barang “kecil” yang hendak dipinjam untuk waktu relatif lama—lama itu relatif. Untuk urusan ini, mereka harus minta izin dulu pada si pemilik barang.
Bagaimanapun juga, etika meminjam yang benar adalah dengan sepengetahuan pemilik sekaligus mendapat izin darinya.
Adalah suatu kekeliruan apabila meminjam barang—apa pun itu—tanpa seizin si pemilik. Apalagi kalau yang kita pinjam adalah sesuatu yang berkurang jika kita gunakan, selotip tadi misalnya. Beda dengan penggaris yang apabila kita gunakan bakalan tidak berkurang suatu apapun, selotip akan berkurang sebanyak yang kita pakai atau manfaatkan. Meskipun demikian, baik penggaris dan selotip, keduanya akan menimbulkan masalah jika dipinjam tanpa meminta izin terlebih dulu.
Namun, yang sering terjadi, kita suka mengabaikan fakta ini. Kita suka menganggap remeh urusan pinjam-meminjam ini. Tidak pernah terlintas di benak kita bagaimana perasaan si pemilik barang yang telah berbaik hati meminjamkan barangnya kepada si peminjam gelap. Boleh jadi si pemilik betul-betul sedang butuh barang itu, tapi barang itu tidak ada di tempat.
Pun ketika kita meminjam barang dengan sepengetahuan pemiliknya. Mentang-mentang merasa sudah punya izin, kita seenaknya saja menggunakan barang tersebut. Tidak sepenuh hati menjaganya sehingga banyak yang “kurang” ketika barang itu kembali ke tangan pemiliknya. Atau setelah selesai memanfaatkan barang yang kita pinjam, kita tidak bersegera mengembalikannya sehingga berakibat si pemilik harus kasak-kusuk dulu ketika lagi butuh—parahnya saking suka menunda-nunda, kita jadi lupa bahwa pernah meminjam.
Meminjam dengan izin si pemilik pun masih berpotensi menimbulkan masalah, apalagi tanpa izin. Seringkali si pemilik terpaksa mengikhlaskan barang yang dipinjam oleh si peminjam gelap karena tidak ada pilihan lain.   Semoga ini tidak berbuntut panjang ke akhirat. Jangan sampai hal-hal sepele seperti ini menyusahkan kita untuk memasuki surga-Nya kelak. (hz)

4 komentar:

  1. sepakat mas hasan, hal kecil yang sering menjadi penyebab panyakit hati. niatnya baik meminjami tetapi malah si peminjam tidak merasa bahwa si pemilik juga membutuhkan barang yang dia pinjam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. siip-lah. moga kita terhindar dari hal demikian.

      Hapus
  2. kalau takut dosa minjam gak ngembalikan.
    Minta saja...

    BalasHapus