Ia riang dan
lincah mengayunkan sapunya, membersihkan daun-daun rontok akibat angin kencang
semalam. Sambil memasukkan daun-daun yang telah terkumpul ke dalam pengki,
kadang-kadang ia menyelingi dengan bernyanyi. Lagu favoritnya adalah Lihat
Kebunku.
Lihat kebun
Andi. Aneka rupa bunga; melati, mawar, anggrek; warna-warni menyejukkan
pandangan. Ada juga aglaonema dan pakis-pakisan yang meskipun tanpa
bunga, tetap terlihat cantik dengan tampilan daunnya yang menawan. Pohon jambu
di salah satu sudut halaman cocok sebagai tempat bersantai di siang hari yang
terik. Menyenangkan sekali bukan?
Sungguh
menyenangkan. Aku sangat betah tinggal di sini. Setiap waktu aku bisa melihat
Andi si anak yang rajin dan baik. Ia adalah penyejuk mata bagi kedua orang
tuanya.
Aku adalah
salah satu bunga yang menghiasi salah satu pojok pekarangan rumah yang asri
itu. Oh ya, kenalkan aku bunga melati. Oi, lihat itu! Andi berjalan ke arahku,
tersenyum memandangi diriku yang putih-mungil seperti salju, lantas dengan
takzim menciumku. Andi selalu membanggakan diriku. Katanya aku adalah puspa
bangsa.
Sengaja
benar Andi menyapu halaman pagi-pagi agar saat matahari mulai bersinar cerah
dan menyapa dengan sinarnya yang hangat, halaman rumahnya sudah nampak rapi.
Dengan begitu tidak akan mengganggu orang-orang yang melintas di depan rumahnya
untuk memulai aktivitas. Andi tak pernah malu melakukan pekerjaan itu karena
menurutnya itu pekerjaan yang bermanfaat.
“Assalamu'alaikum.
Pagi semuanya,” seru Matahari menyapa ramah. Segera kami merasa hangat. Dengan
bantuan sinar matahari, kami juga akan segera memulai aktivitas seperti
orang-orang itu. Memasak untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk bumi.
Cadangan makanan dan oksigen.
“Wa'alaikumsalam,”
sahut kami serempak.
Seekor
burung hinggap di dahan pohon jambu. Jambu-jambu ranum yang
bergantungan memang sangat menggoda binatang pemakan buah. Kemudian datang pula
seekor tupai tak mau ketinggalan. Sepagi ini semua sudah sibuk mencari karunia
Allah. Barang siapa bermalas-malasan alamat kelaparan.
Andi melirik
kedua binatang yang tengah asyik makan itu, pura-pura tidak tahu. Takut
kalau-kalau gerakannya akan membuat terkejut kedua binatang yang lagi
asyik-asyiknya makan itu, lalu ketakutan dan pergi. Andi jarang mengusir
binatang-binatang yang mampir ke pohon jambunya. Apa salahnya berbagi
sedikit rezeki dari Allah, begitu pikirnya.
Jalanan
mulai ramai. Orang-orang akan segera tenggelam dengan urusannya masing-masing.
“Andi, sarapan dulu. Nanti kamu terlambat sekolah!” panggil Ibu dari dapur.
“Iya, Bu.
Sebentar lagi.” sahut Andi. Ia segera mempercepat pekerjaannya. Semua beres
setelah dua menit kemudian, lalu ia masuk ke dalam rumah untuk menyantap
sepiring hidangan istimewa buatan Ibu.
Tidak
beberapa lama kemudian, Andi keluar rumah lagi. Sudah berpakaian seragam
sekolah rapi.
“Pak, Bu,
Andi berangkat dulu, ya,” ujarnya sambil mencium tangan Bapak dan Ibu.
“Assalamu'alaikum.”
“Wa'alaikumsalam
warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Bapak dan Ibu.
Andi memacu
sepedanya menuju sekolah dengan bergairah. Ibu mengiringinya dengan membaca
keras-keras doa hendak bepergian supaya Andi tidak pernah lupa membaca doa
ketika akan keluar dari rumah.
Aku dan
semua makhluk hidup di halaman rumah keluarga ini; bunga, pohon, semut;
semuanya mendoakan kebaikan untuk Andi, si anak yang baik dan saleh. (hz)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar