Selasa, 08 Mei 2012

Suatu Pagi di Rumah Andi



          Srek, srek... Andi sedang menyapu halaman, kerisik gesekan sapunya memenuhi udara pagi yang segar. Andi sudah terbiasa bangun pagi ketika adzan subuh berkumandang dari Mushola dekat rumahnya. Lepas shalat subuh berjamaah di Mushola, biasanya ia mengaji dengan Bapak, sementara Ibu menyiapkan sarapan pagi. Setelah itu, barulah ia menyapu halaman rumah yang tak seberapa luas, namun hijau dengan pohonan dan bebungangan yang menyejukkan mata.
          Ia riang dan lincah mengayunkan sapunya, membersihkan daun-daun rontok akibat angin kencang semalam. Sambil memasukkan daun-daun yang telah terkumpul ke dalam pengki, kadang-kadang ia menyelingi dengan bernyanyi. Lagu favoritnya adalah Lihat Kebunku.
          Lihat kebun Andi. Aneka rupa bunga; melati, mawar, anggrek; warna-warni menyejukkan pandangan. Ada juga aglaonema dan pakis-pakisan yang meskipun tanpa bunga, tetap terlihat cantik dengan tampilan daunnya yang menawan. Pohon jambu di salah satu sudut halaman cocok sebagai tempat bersantai di siang hari yang terik. Menyenangkan sekali bukan?
          Sungguh menyenangkan. Aku sangat betah tinggal di sini. Setiap waktu aku bisa melihat Andi si anak yang rajin dan baik. Ia adalah penyejuk mata bagi kedua orang tuanya.
          Aku adalah salah satu bunga yang menghiasi salah satu pojok pekarangan rumah yang asri itu. Oh ya, kenalkan aku bunga melati. Oi, lihat itu! Andi berjalan ke arahku, tersenyum memandangi diriku yang putih-mungil seperti salju, lantas dengan takzim menciumku. Andi selalu membanggakan diriku. Katanya aku adalah puspa bangsa.
          Sengaja benar Andi menyapu halaman pagi-pagi agar saat matahari mulai bersinar cerah dan menyapa dengan sinarnya yang hangat, halaman rumahnya sudah nampak rapi. Dengan begitu tidak akan mengganggu orang-orang yang melintas di depan rumahnya untuk memulai aktivitas. Andi tak pernah malu melakukan pekerjaan itu karena menurutnya itu pekerjaan yang bermanfaat.
          “Assalamu'alaikum. Pagi semuanya,” seru Matahari menyapa ramah. Segera kami merasa hangat. Dengan bantuan sinar matahari, kami juga akan segera memulai aktivitas seperti orang-orang itu. Memasak untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk bumi. Cadangan makanan dan oksigen.
          “Wa'alaikumsalam,” sahut kami serempak.
          Seekor burung hinggap di dahan pohon jambu. Jambu-jambu ranum yang bergantungan memang sangat menggoda binatang pemakan buah. Kemudian datang pula seekor tupai tak mau ketinggalan. Sepagi ini semua sudah sibuk mencari karunia Allah. Barang siapa bermalas-malasan alamat kelaparan.
          Andi melirik kedua binatang yang tengah asyik makan itu, pura-pura tidak tahu. Takut kalau-kalau gerakannya akan membuat terkejut kedua binatang yang lagi asyik-asyiknya makan itu, lalu ketakutan dan pergi. Andi jarang mengusir binatang-binatang yang mampir ke pohon jambunya. Apa salahnya berbagi sedikit rezeki dari Allah, begitu pikirnya.
          Jalanan mulai ramai. Orang-orang akan segera tenggelam dengan urusannya masing-masing. “Andi, sarapan dulu. Nanti kamu terlambat sekolah!” panggil Ibu dari dapur.
          “Iya, Bu. Sebentar lagi.” sahut Andi. Ia segera mempercepat pekerjaannya. Semua beres setelah dua menit kemudian, lalu ia masuk ke dalam rumah untuk menyantap sepiring hidangan istimewa buatan Ibu.
          Tidak beberapa lama kemudian, Andi keluar rumah lagi. Sudah berpakaian seragam sekolah rapi.
          “Pak, Bu, Andi berangkat dulu, ya,” ujarnya sambil mencium tangan Bapak dan Ibu. “Assalamu'alaikum.”
          “Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Bapak dan Ibu.
          Andi memacu sepedanya menuju sekolah dengan bergairah. Ibu mengiringinya dengan membaca keras-keras doa hendak bepergian supaya Andi tidak pernah lupa membaca doa ketika akan keluar dari rumah.
          Aku dan semua makhluk hidup di halaman rumah keluarga ini; bunga, pohon, semut; semuanya mendoakan kebaikan untuk Andi, si anak yang baik dan saleh. (hz)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar